Beberapa jam kemudian, mereka kembali menemui teknisi yang pernah mereka datangi sebelumnya. Seorang pria tua, berjenggot putih dan berkacamata, menyambut mereka. Usianya tampak mendekati setengah abad.

"Bagaimana, anak muda? Apakah kalian berhasil menemukan orang yang bisa memperbaiki mesin itu?" tanyanya dengan ramah.

Leena menggeleng pelan. "Kami belum menemukannya, tapi kami berharap Anda bisa memperbaikinya."

Teknisi itu menghela napas panjang. "Seperti yang kukatakan sebelumnya, tanpa material khusus Rundaril, aku tidak bisa berbuat banyak. Jika dipaksakan memakai bahan lain, bisa-bisa malah merusak bagian lainnya."

Ia membetulkan kacamatanya, lalu kembali menghela napas. "Aku tidak tahu apa fungsi alat kalian. Teknologinya asing bagiku, sangat rumit. Kalau pun ada bahan yang cocok, aku hanya berani membuat ulang komponen yang rusak saja."

Lynx lalu mengeluarkan sebuah parang dan menyerahkannya. Teknisi itu tersentak kaget, mengira Lynx mengancamnya.

"Anak muda, apa maksudmu? Kau mengancamku? Aku sungguh tak tahu cara memperbaikinya! Sekalipun kau punya bahannya, jika ada kerusakan lain, aku tak akan membongkarnya. Mesin itu bisa rusak total!" suaranya meninggi.

Leena segera melangkah maju. "Kami tidak berniat buruk. Kami hanya ingin Anda memeriksa senjata ini. Apakah materialnya sama dengan yang Anda maksudkan?"

Teknisi itu mengangguk, menyadari kesalahpahamannya.

Dengan tenang, ia menerima parang dari tangan Lynx dan memeriksanya. Jemarinya yang kasar menyentuh permukaan bilah, lalu mengetuknya perlahan, mendengarkan gema logam dari dalam.

"Ini…" gumamnya lirih. "Rundaril. Tidak diragukan lagi. Darimana kalian mendapatkan ini?"

Lynx hanya tersenyum samar. "Itu tidak penting. Yang penting, bisakah Anda membuat ulang komponen mesin kami yang rusak dengan bahan ini?"

Mata teknisi itu menyala. Seperti anak kecil menemukan mainan baru, antusiasmenya meluap. "Bisa. Tapi aku butuh waktu. Tiga hari… untuk melebur ulang, menyesuaikan struktur, menambahkan komponen pendukung, dan menanamnya ke dalam alat kalian."

"Tiga hari," ulang Leena, saling pandang dengan Lynx. "Itu pas dengan waktu menuju pertandingan arena."

"Pas sekali," gumam Lynx, mengangguk. "Kami setuju."

"Ingat," ujar teknisi itu, mengangkat telunjuk, "aku hanya bisa membuat ulang bagian yang rusak. Jika mesin itu rusak di bagian lain atau tetap tidak berfungsi, aku tidak bisa membantu lebih jauh."

Lynx hanya mengangguk, lalu berbalik bersama Leena. Mereka meninggalkan komponen rusak untuk dibuatkan ulang, sementara mesinnya tetap dibawa oleh Lynx.

Saat mereka melangkah keluar dari bengkel tua itu, senyum tipis muncul di wajah Leena.

"Kalau ini berhasil… kita bisa menemukan Lala."

Lynx menjawab tenang, penuh tekad, "Kita akan membawa Lala kembali bersama kita. Setelah itu, kita cari suku Surya."

***

Tiga hari berlalu. Hari besar pertandingan akhirnya tiba.

Lynx dan Leena berdiri di depan bangunan yang beberapa hari lalu sempat mereka datangi.

Udara di sekeliling terasa ganjil. Tak ada keramaian, tak terdengar suara apa pun selain desir angin yang menerbangkan debu dari celah-celah bangunan tua. Semua tampak sunyi, terlalu sunyi.

"Lynx, bukankah ini tempat yang dimaksud?" Leena memandang sekeliling dengan dahi berkerut. "Apa mereka mempermainkan kita?"

Selama tiga hari terakhir, mereka masih berusaha menggali informasi tentang The Circuit—namun tanpa hasil. Pagi tadi, tanpa peringatan, kotak kecil yang mereka terima sebelumnya tiba-tiba berbunyi dan menampilkan pesan: pendaftaran akan dibuka satu jam lagi.

Dengan semangat bercampur rasa penasaran, Leena segera menarik tangan Lynx yang masih sibuk menghabiskan makanannya, menyeretnya menuju lokasi yang disebutkan. Namun kini, yang mereka temukan justru hanya kesunyian dan gedung tua tanpa tanda-tanda adanya aktivitas.

Lynx mengaktifkan mata langitnya, menelusuri lingkungan sekitar. Matanya menangkap gerakan. Seorang pria mendekat dari balik dinding logam, langkahnya tenang. Tak ada aura mencurigakan, tapi setiap gerak-geriknya terlalu rapi untuk dianggap biasa.

Lelaki itu muncul dari balik bayangan, mengenakan pakaian hitam dan masker separuh wajah. Hanya matanya yang tampak—dingin, tajam, dan penuh perhitungan.

"Undangan kalian," katanya, suaranya berat dan datar.

Tanpa bicara, Lynx mengeluarkan kotak kecil yang sebelumnya mereka terima. Kotak logam itu berhiaskan simbol tengkorak bermahkota, dikelilingi ornamen hitam pekat berujung tajam yang tampak seperti ukiran kematian.


Pria itu menunduk singkat, seolah memberikan penghormatan, lalu berbalik. "Ikuti saya."

Mereka masuk ke dalam gedung yang pernah mereka susuri sebelumnya. Namun kali ini, Lynx dan Leena menyadari bahwa tempat persembunyian mereka dulu justru menyimpan rahasia yang selama ini mereka cari.

Petugas itu membawa mereka menuju sebuah alat yang sebelumnya mereka anggap sudah tak berfungsi. Sebuah perangkat sederhana, bentuknya menyerupai mesin dispenser tua, tanpa kran, tanpa tombol, hanya sebuah lubang kotak di bagian tengah. Waktu itu Lynx mengabaikannya karena tampak tak berguna.

Kini, dengan tangan terampil, pria itu memasukkan undangan mereka ke dalam celah perangkat. Suara lembut berdengung pelan, dan lantai di tengah ruangan mulai bersinar. Sebuah lingkaran cahaya putih kebiruan muncul, melingkar sempurna, tampak seperti dekorasi, namun nyatanya lebih dari itu.

"Silakan masuk ke dalam," ujar petugas itu, kini berdiri di tengah lingkaran. "Ini adalah pintu masuk menuju lokasi pertandingan."

Melihat keraguan di mata Leena, ia menambahkan, "Lingkaran ini adalah lift teleportasi. Hanya terhubung pada satu titik tujuan… sekitar lima puluh ribu kilometer dari sini."

Leena melirik ke arah Lynx. Mereka saling berpandangan sejenak, lalu melangkah masuk bersama tanpa sepatah kata pun.

"Apakah semua petarung harus lewat tempat ini?" Tanya Leena kepada petugas.

"Untuk mencapai tujuan hanya bisa lewat portal. Namun, titik portal bukan hanya satu. Ada ratusan portal tersebar dan informasi tersebut baru diberikan menjelang pendaftaran untuk mencegah ada pihak yang berniat mengganggu acara." Petugas menjelaskan.

Setelah petugas memastikan mereka siap, petugas tersebut segera menekan tombol yang dibawanya. Dengan segera tubuh mereka terasa ditarik ringan, namun tetap terasa halus dan cepat. Dalam hitungan detik, mereka muncul di sebuah ruang baru. Ruangan itu jauh lebih besar, dipenuhi orang-orang asing dengan pakaian tempur, senjata eksotis, dan aura mematikan.

Wajah-wajah baru. Tak satu pun dari mereka dikenali.

Lynx diam sejenak, memejamkan mata dan mengaktifkan kekuatannya. Ia menelusuri jejak yang sebelumnya ia tinggalkan sebelum berangkat ke tempat ini. Lynx menajamkan kesadarannya pada aliran dimensi di sekitarnya. Butuh waktu sejenak… lalu ia membuka mata perlahan.

"Planet ini… bukan lagi planet Yura," bisiknya pada Leena. "Tapi planet yang bersebelahan dengan planet Yura."

Leena menyipitkan mata. "Itu sebabnya kita tak bisa menemukannya selama ini. Arena pertarungan kematian ternyata tidak ada di planet Yura."

Lynx mengangguk. "Sepertinya mereka sengaja membuat bingung orang yang menargetkan mereka dengan membuat lokasi yang jauh berbeda dengan tempat sebenarnya."

Lynx memperhatikan keadaan sekitar dan melihat barisan peserta yang sedang mendaftar.

Tanpa membuang waktu, mereka mengikuti alur menuju tempat pendaftaran peserta. Ratusan, bahkan ribuan orang sudah berbaris. Suasana penuh tekanan, sebagian membawa senjata, sebagian lain hanya memancarkan aura pembunuh. Setiap wajah memancarkan tekad yang tak main-main.

Sebuah papan digital besar menampilkan aturan seleksi. Hanya lima puluh peserta dari ribuan orang yang akan terpilih untuk mengikuti turnamen utama yang terdiri dari beberapa kelas sesuai dengan tingkat kemampuan mereka dengan hadiah yang berbeda-beda.

Untuk mendapatkan hadiah khusus, didapatkan dengan cara mengikuti kelas paling tinggi, dimana hanya lima orang terpilih akan di adu dan pemenangnya, berhak untuk memasuki pertarungan inti. Dimana, siapa saja boleh menantang salah satu dari kelima petarung utama yang mendekati peringkat lima besar dan mereka yang berhasil mengalahkan para juara akan menggantikan posisi mereka dan mendapatkan hadiah seperti yang dijanjikan. Dan hadiah tambahan yang lebih besar akan diberikan lagi berdasarkan tingkat urutan petarung yang berhasil mereka kalahkan. sedangkan jika kalah, kematian yang akan menanti mereka.

Dengan resiko sebesar itu, sangat mustahil bagi yang berpikir logis untuk mengikuti pertarungan. Namun nama besar, dan berbagai keuntungan yang dapat di terima membuat banyak yang tetap ingin mencoba mengalahkan kelima petarung utana. Terutama karena tidak ada larangan menggunakan cara apapun untuk menang didalam pertempuran.

Lynx mengepalkan tangan. "Kita tidak punya pilihan. Salah satu dari kita harus mengikuti pertarungan ini dan yang satunya menyelidiki tempat ini dan menemukan Isha."

Leena mengangguk mantap. "Jika begitu aku saja yang bertarung Lynx. Aku ingin bersenang-senang merasakan kekuatan para petarung di dunia ini. Dan kamu lebih cocok untuk memeriksa situasi yang ada."

Lynx setuju dengan pendapat Leena,"Berhati-hatilah! Jika aku berhasil menemukan Isha, kita tidak perlu melanjutkan pertarungan ini. Kita bisa segera pergi dari sini."

Dengan langkah tegas, mereka berdua berpisah sesuai rencana yang sudah dibuat dimana Leena memilih kelas tertinggi yang di sebut Imperium Verta.

